Laman

ucapan

Jumat, Maret 08, 2013

Tak Ada Lagi Kemewahan, Bekerja demi Rakyat

Ada yang berbeda dengan penyelenggaraan Kongres Rakyat Nasional China di Beijing, tahun ini. KRN kali ini tergolong istimewa karena menandai alih kekuasaan dari generasi keempat ke generasi kelima pimpinan Partai Komunis China. Presiden dan perdana menteri baru pun akan dilantik pada kongres itu.

Namun, semua tanda hajatan besar sedang berlangsung di ibu kota China itu kini jauh berkurang. Tak ada lagi kelompok perempuan cantik menyambut para delegasi di bandar udara.

Tak ada lagi polisi yang mengawal kendaraan para delegasi menembus kemacetan Beijing. Para wakil rakyat yang terhormat itu pun tak lagi diinapkan di hotel-hotel mewah. Alih-alih mereka dipersilakan tinggal di wisma-wisma tamu sederhana.

Hilang sudah lobster dan sirip ikan hiu di menu makan siang yang disajikan bagi para delegasi yang bersidang di Balai Agung Rakyat.

”Tak ada lagi daging dalam menu sarapan. Kami makan sajian prasmanan, serasa sedang bepergian dengan biro perjalanan biasa yang menempatkan kami di hotel tak berbintang. Makan siang dan makan malam juga lebih sederhana, empat atau lima hidangan panas, tetapi tak ada sea food,” tutur Han Deyun, delegasi dari kota Chongqing, China barat daya.

Hidangan makan siang hari Rabu (6/3), misalnya, hanya terdiri atas sup telur pecah, jagung rebus, tumis sayur bokchoy, dan nasi dengan daging babi.

Delegasi militer mendapat aturan lebih ketat. Mereka diperintahkan membawa perlengkapan mandi sendiri dari rumah dan harus menggunakan kendaraan angkutan bersama saat di Beijing.

Surat kabar resmi Tentara Pembebasan Rakyat menyebutkan, tak ada lagi buah-buahan yang disajikan di kamar para delegasi militer. Mereka juga dilarang keras menerima undangan makan di luar, terutama jika sifatnya personal.


”Kami diperintahkan untuk mencurahkan waktu dan perhatian kami pada rapat-rapat di kongres ini,” tutur Liu Lanchang, delegasi militer dari Jiangsu, yang mengaku harus membatalkan sejumlah janji makan di luar dengan teman-temannya di Beijing.

Semua itu terasa agak ironis karena terjadi di China, negara kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia dengan produk domestik bruto mencapai lebih dari 8 triliun dollar AS tahun lalu.
Memicu kemarahan
Pertumbuhan pendapatan masyarakat China mencapai 8,8 persen per tahun di perkotaan dan 9,9 persen per tahun di pedesaan. Pendeknya, makin banyak orang kaya di China, tetapi kekayaan yang dipamerkan para pejabat partai dan pemerintahan memicu kemarahan rakyat.

Para pejabat itu selama ini selalu memamerkan gaya hidup mewah, seperti memiliki banyak vila, mengendarai mobil mewah, mengenakan arloji mahal, dan menyekolahkan anak-anak mereka di perguruan tinggi favorit di luar negeri.

Semua itu menjadi sumber kemarahan rakyat China terhadap Partai Komunis China (PKC) karena rakyat tahu para pejabat itu tak mungkin membeli semua kemewahan tersebut dengan gaji mereka.

Itu yang membuat pemimpin baru PKC, Xi Jinping, melarang segala bentuk pemborosan dan kemewahan dalam Kongres Rakyat Nasional (KRN) tahun ini sebagai bagian dari upaya dia memberantas korupsi.

Para pengkritik mengatakan, pelarangan terhadap gaya hidup mewah itu lebih sebagai sebuah langkah pencitraan, yang belum tentu akan memberantas akar korupsi. Meski demikian, langkah itu patut dipuji, paling tidak untuk membuat orang-orang yang merasa terhormat itu kembali ingat mereka di sana untuk bekerja bagi rakyat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentar ANDA